CARA CEPAT
MERAIH
MERAIH
KEIMANAN
Oleh
Harun Yahya
Harun Yahya
PERTANYAAN 1
Bagaimana memahami keberadaan
Allah?
Tumbuhan,
binatang, lautan, gunung-gunung, dan manusia disekitar kita, dan semua jasad
renik yang tidak kasat mata – hidup ataupun mati, merupakan bukti nyata adanya
Kebijakan Agung yang menciptakannya. Demikian pula dengan
kesetimbangan,
keteraturan dan penciptaan sempurna yang nampak di seluruh jagat. Semuanya
membuktikan keberadaan Pemilik pengetahuan agung, yang menciptakannya dengan
sempurna. Pemilik kebijakan dan pengetahuan agung ini adalah Allah.
Sistem-sistem
sempurna yang diciptakanNya serta sifat-sifat yang mengagumkan pada setiap
mahluk, hidup maupun mati, menimbulkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesempurnaan
ini tertulis dalam Al-Qur’an:
Dia menciptakan tujuh langit yang
berlapis-lapis. Tak akan ditemui sedikit cacatpun dari ciptaanNya. Perhatikan
berkali-kali - apakah engkau melihat kekurangan padanya? Lalu, perhatikanlah
sekali lagi. Matamu akan silau dan lelah! (Surat Al-Mulk: 3-4)
PERTANYAAN 2
Bagaimana cara mengenal Allah?
Ciptaan
yang sempurna di seluruh jagat raya menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha
Agung.
Allah
sendiri telah memperkenalkan diriNya kepada kita melalui Al-Qur’an - wahyu yang
diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk yang benar bagi kehidupan. Semua
sifat-sifat Allah yang mulia disampaikan kepada kita di dalam Al-Qur’an. Dia
Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha
Meliputi seluruh alam, Maha Melihat dan Maha Mendengar atas segala sesuatu. Dia
lah Pemilik dan Tuhan satu-satunya atas langit dan bumi dan segala sesuatu di
antaranya. Dia lah penguasa seluruh kerajaan langit dan bumi.
Dialah Allah – tiada tuhan selain
Dia. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dia lah Allah – tiada tuhan selain Dia. . . . MilikNya segala nama-nama
yang baik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dia Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hasr: 22-24)
PERTANYAAN 3
Mengapa
kita diciptakan?
Dalam Al-Qur’an
Allah menyebutkan mengapa kita diciptakan:
Aku ciptakan jin dan manusia
semata-mata untuk menyembahKu. (Surat
Az-Zariyat: 56)
Az-Zariyat: 56)
Seperti
disebutkan dalam ayat ini, keberadaan manusia di bumi ini semata-mata untuk
menjadi hamba Allah, untuk menyembahNya dan untuk memperoleh ridhaNya.
Penghambaan manusia kepada Allah merupakan batu ujian selama ia hidup di muka
bumi.
Allah menguji
manusia di muka bumi untuk memisahkan antara mereka yang beriman dan mereka
yang tidak beriman, serta untuk menentukan siapa yang terbaik amal
perbuatannya. Oleh karena itu, pengakuan seperti “aku beriman” tanpa bukti
tindakan yang sesuai dengannya tidak lah cukup. Di sepanjang hayatnya, manusia
diuji dalam hal keimanan dan keta’atannya kepada Allah, termasuk kegigihannya
dalam memperjuangkan agama Allah. Pendek kata, diuji dalam ketabahan sebagai
hamba Allah dalam berbagai kondisi dan lingkungan yang dikehendakiNya. Ini
dinyatakan Allah dalam ayat berikut:
Dia Yang Mematikan dan
Menghidupkan untuk menguji siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun. (Surat Al-Mulk: 2)
PERTANYAAN 5
Bagaimana cara
mengabdi kepada Allah?
Menjadi hamba
Allah berarti menyerahkan seluruh hidup kita untuk tujuan mencapai kehendak dan
ridhaNya. Yakni beramal sebaik mungkin tanpa henti untuk mendapatkan ridha
Allah, hanya takut kepada Allah dan mengarahkan seluruh pikiran dan perkataan
serta perbuatan untuk tujuan tersebut. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa
penghambaan kepadaNya meliputi seluruh kehidupan individu:
Katakanlah: ‘Sesungguhnya
shalatku dan ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam.’ (Surat Al-An’am: 162)
PERTANYAAN 6
Mengapa agama diperlukan?
Yang pertama kali harus dilakukan oleh
seseorang yang meyakini keberadaan Allah adalah mempelajari apa-apa yang
diperintahkan dan hal-hal yang disukai Penciptanya. Dia lah yang memberinya ruh
dan kehidupan, makanan, minuman dan kesehatan. Selanjutnya dia harus
mengabdikan seluruh hidupnya untuk patuh kepada perintah-perintah Allah dan
mencari ridhaNya.
Agama lah yang membimbing kita kepada
moral, perilaku dan cara hidup yang diridhai Allah. Allah telah menjelaskan
dalam Al-Qur’an bahwa orang yang patuh kepada agama berada di jalan yang benar,
sedangkan yang lainnya akan tersesat.
Dia yang dadanya terbuka untuk
Islam mendapat cahaya dari Tuhannya. Sungguh celaka orang-orang yang berkeras
untuk tidak mengingat Allah! Mereka dalam kesesatan yang nyata. (Surat
az-Zumar: 22)
PERTANYAAN 7
Bagaimana cara menjalankan agama (dien)?
Orang yang
beriman kepada Allah dan menghambakan diri kepadaNya, mengatur hidupnya agar
sesuai dengan seruan Allah dalam Al-Qur’an. Dia menjadikan agama sebagai
petunjuk hidupnya. Patuh kepada hal-hal yang baik menurut hati nuraninya, dan
meninggalkan segala yang buruk yang ditolak hati nuraninya.
Allah menyatakan
dalam Al-Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia agar siap untuk menghidupkan
agamaNya:
Maka, teguhkanlah pengabdianmu
kepada Agama yang benar yang Allah ciptakan untuk manusia. Tiada yang mampu
merubah ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya. (Surat Ar-Rum: 30)
PERTANYAAN 8
Dapatkah moral
tegak tanpa agama?
Pada
lingkungan masyarakat yang tak beragama, orang cenderung melakukan beragam
tindakan yang tak bermoral. Perbuatan buruk seperti penyogokkan, perjudian, iri
hati atau berbohong merupakan hal yang biasa. Hal demikian tidak terjadi pada
orang yang ta’at kepada agama. Mereka tidak akan melakukan semua perbuatan
buruk tadi karena mengetahui bahwa ia harus mempertanggungjawabkan semua
tindakannya di akhirat kelak.
Sukar
dipercaya jika ada orang mengatakan, “Saya ateis namun tidak menerima sogokan”,
atau “Saya ateis namun tidak berjudi”. Mengapa? Karena orang yang tidak takut
kepada Allah dan tidak mempercayai adanya pertanggungjawaban di akhirat, akan
melakukan salah satu hal di atas jika situasi yang dihadapinya berubah.
Seseorang
yang mengatakan, “Saya ateis namun tidak berjinah” cenderung melakukannya jika
perjinahan di lingkungan tertentu dianggap normal. Atau seseorang yang menerima
sogokan bisa saja beralasan, “Anak saya sakit berat dan sekarat, karenanya saya
harus menerimanya”, jika ia tidak takut kepada Allah. Di negara yang tak
beragama, pada kondisi tertentu maling pun bisa dianggap sah-sah saja.
Contohnya, masyarakat tak beragama bisa beranggapan bahwa mengambil handuk atau
perhiasan dekorasi dari hotel atau pusat rekreasi bukanlah perbuatan pencurian.
Seorang
yang beragama tak akan berperilaku demikian, karena ia takut kepada Allah dan
tak akan pernah lupa bahwa Allah selalu mengetahui niat dan pikirannya. Dia
beramal setulus hati dan selalu menghindari perbuatan dosa.
Seorang
yang jauh dari bimbingan agama bisa saja berkata “Saya seorang ateis namun
pema’af. Saya tak memiliki rasa dendam ataupun rasa benci”. Namun sesuatu hal
dapat terjadi padanya yang menyebabkannya tak mampu mengendalikan diri, lalu
mempertontonkan perilaku yang tak diinginkan. Dia bisa saja melakukan
pembunuhan atau mencelakai orang lain, karena moralnya berubah sesuai dengan
lingkungan dan kondisi tempat tinggalnya.
Sebaliknya,
orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak kan pernah menyimpang dari
moral yang baik, seburuk apapun kondisi lingkungannya. Moralnya tidak
“berubah-ubah” melainkan tetap kokoh. Orang-orang beriman memiliki moral yang
tinggi. Sifat-sifat mereka disebut Allah dalam ayatNya:
Mereka yang teguh dengan
keyakinannya kepada Allah dan tidak mengingkari janji; yang menghubungkan apa
yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya dan takut kepada Tuhan mereka
dan takut pada hisab yang buruk; mereka yang sabar untuk mencari perjumpaan
dengan Tuhan mereka, dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian harta yang
kami berikan kepadanya secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, menolak
kejahatan dengan kebaikan. Merekalah yang mendapat kedudukan yang tinggi.
(Surat Ar-Ra’d: 20-22)
PERTANYAAN 9
Apa yang terjadi
dengan sistem sosial jika tidak ada agama?
Konsep pertama yang akan hilang pada sebuah
lingkungan tak beragama adalah konsep keluarga. Nilai-nilai yang menjaga
keutuhan keluarga seperti kesetiaan, kepatuhan, kasih-sayang dan rasa hormat
akan ditinggalkan sama sekali. Harus diingat bahwa keluarga merupakan pondasi
dari sistem kemasyarakatan. Jika tata nilai keluarga runtuh, maka masyarakat
pun akan runtuh. Bahkan bangsa dan negara pun tidak akan ada lagi, karena
seluruh nilai moral yang menyokongnya telah musnah.
Lebih jauh lagi, tak akan ada lagi rasa
hormat dan kasih-sayang terhadap orang lain. Ini mengakibatkan anarki sosial.
Yang kaya membenci yang miskin, yang miskin membenci yang kaya. Angkara murka
tumbuh pada mereka yang merasa dirintangi, hidup susah atau miskin. Atau
menimbulkan agresi terhadap bangsa lain. Karyawan bersikap agresif kepada
atasannya. Demikian pula atasan kepada bawahannya. Para bapak berpaling dari
anaknya, dan anak berpaling dari bapaknya.
Sebab dari pertumpahanan darah yang
terus-menerus dan “berita-berita kriminalitas” di surat kabar adalah ketiadaan
agama. Setiap hari dapat kita baca tentang orang-orang yang saling bunuh karena
alasan yang sangat sepele.
Orang yang mengetahui bahwa ia akan diminta
pertanggungjawaban di akhirat kelak, tidak akan melakukan pembunuhan. Dia tahu
bahwa Allah melarang manusia melakukan kejahatan. Ia selalu menghindari murka
Allah karena rasa takutnya kepadaNya.
Janganlah
berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Dan berdo’alah
kepadaNya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat
kepada orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-A’raf: 56)
Tindakan bunuh diri pun disebabkan oleh
ketiadaan agama. Orang yang melakukan bunuh diri sama saja dengan melakukan
pembunuhan. Orang yang hendak bunuh diri karena ditinggal pacar, misalnya,
harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut sebelum melakukannya: Apakah ia
akan melakukan bunuh diri jika pacarnya menjadi cacat? atau menjadi tua? atau
jika wajah pacarnya terbakar? Tentunya tidak. Dia terlalu berlebihan menilai
pacarnya seolah sebanding dengan Allah. Bahkan menganggap pacarnya lebih
penting dari Allah, lebih penting dari hari akhirat dan dari agama. Ia lebih
mempertaruhkan jiwanya bagi pacarnya tersebut dibanding bagi Allah.
Orang yang dibimbing Al-Qur’an tidak akan
melakukan hal semacam itu, bahkan tidak akan terlintas sedikitpun dalam
benaknya. Seorang yang beriman menyerahkan hidupnya hanya untuk keridhaan
Allah, dan menjalani dengan sabar segala kesusahan dan masalah yang Allah
ujikan padanya di dunia ini. Ia pun tidak lupa bahwa kesabarannya itu akan
mendapatkan balasan berlipat ganda baik di dunia maupun di akhirat.
Pencurian pun merupakan hal yang sangat
biasa pada masyarakat yang tak beragama. Seorang pencuri tak pernah berpikir
seberapa besar kesusahan yang ditimbulkannya terhadap orang yang dicurinya.
Harta yang dikumpulkan korbannya puluhan tahun diambilnya dalam semalam saja.
Ia tak peduli seberapa besar kesusahan yang akan diderita korbannya. Mungkin
saja ia pernah sadar dan menyesali perbuatannya yang telah menimbulkan
kesusahan pada orang lain. Jika tidak, keadaannya menjadi lebih buruk. Itu
berarti bahwa hatinya telah membatu dan selalu cenderung untuk melakukan segala
tindakan yang tak bermoral.
Dalam masyarakat yang tak beragama,
nilai-nilai moral seperti keramahan, mau berkorban untuk orang lain,
solidaritas dan sikap murah hati telah lenyap sama sekali. Orang-orangnya tidak
menghargai orang lain sebagaimana layaknya manusia. Bahkan ada yang memandang
orang lain sebagai mahluk yang berevolusi dari kera. Tak satu pun dari mereka
mau menerima, melayani, menghargai atau memberikan sesuatu yang baik kepada
orang lain. Apalagi terhadap mereka yang dianggapnya sebagai berasal dari kera.
Orang-orang yang berpikiran seperti ini
tidak menghargai orang lain. Tak satu pun memikirkan kesehatan, kesejahteraan
atau kenyamanan orang lain. Mereka tak peduli jika orang lain terluka, atau
pernah berusaha agar orang lain terhindar dari kecelakaan semacam itu.
Di rumah sakit, misalnya, orang yang hampir
meninggal dibiarkan begitu saja terlentang di ranjang-gotong dalam jangka waktu
yang tak tentu; tak seorangpun pun peduli kepadanya. Contoh lain misalnya,
pemilik restoran yang menjalankan restorannya tanpa peduli dengan kebersihan.
Tempatnya yang kotor dan tidak sehat tak digubrisnya, tidak peduli dengan
bahaya yang mungkin ditimbulkan terhadap kesehatan orang lain yang makan di
sana. Ia hanya peduli kepada uang yang dihasilkannya. Ini hanya sebagian kecil
contoh yang kita temui sehari-hari.
Logikanya, orang hanya baik terhadap orang
lain jika bisa mendapat imbalan yang menguntungkan. Namun bagi mereka yang
menjalankan standar moral Al-Qur’an, menghargai orang lain merupakan pengabdian
kepada Allah. Mereka tak mengharapkan imbalan apa pun. Semuanya merupakan usaha
untuk mencari ridha Allah dengan terus-menerus melakukan amal baik, dan
berlomba-lomba dalam kebaikan.
PERTANYAAN 10
Apa manfa’at
material dan spiritual bagi masyarakat jika
mereka ta’at pada
Al-Qur’an?
Perlu
kami ingatkan bahwa pengertian agama di sini adalah cara hidup yang bermoral.
Cara hidup yang disukai Allah. Cara yang dipilihNya dan yang paling tepat bagi
semua jenis manusia. Cara hidup yang terbebas dari takhyul-takhyul dan
mitos-mitos, dan sepenuhnya di bawah bimbingan Al-Qur’an.
Agama menciptakan lingkungan moral yang
sangat aman dan nyaman. Sikap anarkis yang menyebabkan kerusakan pada bangsa
negara terhenti sama sekali karena rasa takut kepada Allah. Orang tidak lagi
melakukan tindakan yang merugikan ataupun berbuat kerusuhan. Orang-orang yang
memegang nilai-nilai moral siap bangkit bagi bangsa dan negaranya serta tidak
hendak berhenti untuk berkorban. Orang-orang semacam ini selalu berusaha untuk
kesejahteraan dan keamanan negaranya.
Di dalam masyarakat yang mengamalkan moral
Al-Qur’an, orang-orangnya sangat menghargai satu sama lain. Setiap orang selalu
berusaha agar orang lain merasa nyaman dan aman, karena menurut ajaran islam,
solidaritas, persatuan dan kerjasama merupakan hal yang sangat penting. Setiap
orang merasa berkewajiban untuk mendahulukan kenyamanan dan kepentingan orang
lain. Ayat berikut merupakan contoh moralitas dari orang-orang yang beriman:
Mereka yang lebih dulu tinggal di Madinah,
dan telah beriman sebelum mereka datang, mencintai mereka yang datang kepada
mereka untuk berhijrah, dan tak terbetik keinginan di hati mereka akan
barang-barang yang diberikan kepada mereka, melainkan mendahulukan mereka
dibanding dirinya sendiri meskipun mereka sendiri sangat membutuhkannya. Siapa
yang terpelihara dari ketamakan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(Surat Al-Hashr: 9)
Dalam lingkungan yang orang-orangnya takut
kepada Allah, setiap orang berusaha untuk kesejahteraan masyarakat. Tak seorang
pun bersikap boros. Setiap orang bekerja sama dan bersatu padu sambil
memperhatikan kepentingan orang lain. Hasilnya berupa masyarakat yang kaya
dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi.
Masyarakat demikian kaya akan moral dan
material. Kekacauan yang mengandung sikap memberontak sama sekali sirna. Setiap
orang dapat mengekang hawa nafsunya dan setiap masalah diselesaikan dengan cara
yang logis. Segala persoalan dipecahkan dengan kepala dingin. Dan kehidupan,
karenanya, selalu aman tentram.
PERTANYAAN 11
Apa manfa’at
keta’atan pada moral Al-Qur’an
bagi kehidupan
keluarga?
Al-Qur’an mewajibkan sikap hormat kepada
ibu dan bapak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Telah Kami perintahkan manusia untuk berbuat baik
kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan
masa menyapih selama dua tahun: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua
orang-tuamu. Hanya kepada-Ku lah kamu kembali. (Surah Luqman: 14)
Dalam keluarga yang mengamalkan moral
Al-Qur’an tidak terdapat pertengkaran ataupun pertentangan. Selalu nampak sikap
hormat yang tinggi kepada ibu, bapak dan anggota keluarga yang lain. Setiap
orang hidup dalam lingkungan yang menyenangkan.
PERTANYAAN 12
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an
bagi sistem bernegara?
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa
keta’atan merupakan sifat yang positif. Seseorang yang memiliki moral Qur’ani
akan sepenuhnya patuh dan hormat terhadap negaranya. Dalam masyarakat Islam,
setiap orang berusaha untuk kesejahteraan negara dan bangsanya. Tidak pernah
berontak terhadap negara, melainkan mendukung baik secara spiritual maupun
material.
Dalam masyarakat yang terbentuk dari
orang-orang yang takut kepada Allah, kasus-kasus hukum tak pernah sampai ke
tingkat persidangan. Seperseribunya pun dari pelanggaran hukum yang terjadi
pada masyarakat sekarang ini tak pernah dialami.
Mengatur negara menjadi jauh lebih mudah, karena
pemerintah tidak perlu mengurus kasus-kasus anarki, terorisme, kejahatan,
pembunuhan. Seluruh kekuatan pemerintah dipusatkan pada pengembangan dan
peningkatan kesejahteraan negeri, di sektor dalam maupun luar negeri.
Karenanya, menghasilkan negara yang sangat kuat.
PERTAnyaan 13
Apa manfa’at keta’atan pada moral
Orang-orang yang ta’at pada moral Al-Qur’an
saling menghargai satu dengan lainnya. Mereka akan selalu berusaha menciptakan
kondisi lingkungan yang telah disetujui bersama. Lingkungan yang indah dalam
segala segi estetika. Karena rasa rindu pada surga, sarana-sarana dunia
digunakan sepenuhnya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan menyenangkan.
Semuanya terasa indah di mata, di telinga dan di seluruh indra lainnya.
Karenanya, seni dan estetika berkembang dalam semua aspek kehidupan mereka.
Lebih dari itu, orang yang ta’at kepada
agama memiliki hati yang bersih. Karenanya tak ada tekanan dalam pikirannya,
sehingga dapat menciptakan karya seni orisinil yang indah dan unik. Selain itu,
karya mereka ditujukan untuk menyajikan keindahan dan untuk menyenangkan
sesamanya yang ta’at, secara tulus hati dan sungguh-sungguh.
PERTANYAAN 14
Apa manfa’at keta’atan pada moral
Pertama-tama, menjalankan moral Al-Qur’an
akan menghasilkan anak-anak dan pemuda yang dewasa dan bijaksana. Perilaku tak
acuh tidak akan dimiliki oleh anak muda yang ta’at pada Al-Qur’an. Keta’atan
pada Al-Qur’an, karenanya, menghasilkan generasi yang perilakunya baik,
pikirannya terbuka, patuh, mau mengalah serta produktif. Dinamisme, gairah
serta semangat mereka diarahkan pada perbuatan baik. Ketekunan dan daya pikir
mereka berkembang. Dalam lingkungan demikian, pelajarnya tidak hanya mengutamakan
kelulusan atau penghindaran dari hukuman, melainkan berkeinginan untuk
memberikan kontribusi pada bangsa dan negaranya.
Tak pernah terdengar adanya pelanggaran
disiplin di sekolah. Lingkungan pendidikannya sangat tentram, konstruktif dan
produktif. Kerja sama antara guru dan pelajar berlandaskan pada kepatuhan, rasa
hormat dan toleransi. Para pelajarnya menjadi sangat hormat dan patuh pada
negara dan aparat keamanan. Demonstrasi-demonstrasi pelajar yang sering kita
lihat sekarang ini tidak pernah terjadi karena memang tidak ada perlunya.
PERTANYAAN 15
Apa manfa’at
keta’atan pada moral
Dalam masyarakat yang menjalankan moral
Al-Qur’an, lingkungan kerjanya mengandung sikap saling memahami, kerjasama dan
keadilan. Pemberi kerja memperhatikan kesehatan karyawannya dan memelihara
kesehatan lingkungan kerja dengan sangat baik. Dengan pikiran bahwa karyawan
akan bekerja dalam waktu yang cukup lama, mereka selalu berusaha menciptakan
fasilitas kerja yang indah dan menarik. Karyawannya digaji dengan upah yang
layak. Tak satu karyawanpun mengalami perlakuan buruk. Pihak atasan selalu
memperhatikan kondisi keluarga setiap karyawan. Mereka selalu
bersungguh-sungguh dan berusaha melindungi keluarga karyawan. Tak pernah ada
penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah. Perilaku tak bermoral seperti
ucapan dengki, atau mencegah keberhasilan orang lain karena rasa cemburu, tak
pernah terjadi.
Hubungan antara pemberi kerja dan karyawan
bukan berdasarkan pada kepentingan pribadi dan akal-akalan, melainkan
berdasarkan kerjasama dan rasa saling percaya. Karyawan memperhatikan
kepentingan dan tujuan perusahaan. Mereka tak pernah boros dan berpikiran bahwa
“Bos memang layak membayarnya”. Mereka akan bekerja sebaik-baiknya. Moral yang
baik membuatnya tak pernah disalahkan, bahkan dilindungi oleh atasan.
PERTANYAAN 16
Apa arti “mempersekutukan”
Allah atau syirik?
Syirik berarti menganggap seseorang atau
benda lain atau suatu konsep sebagai wujud yang setara atau lebih tinggi dari
Allah. Anggapan seperti ini bisa dari segi penilaian, sifat keberartian, rasa lebih
menyukai, atau keunggulan, yang disertai dengan perbuatan-perbuatan yang
mendukungnya. Hal seperti inilah yang disebut sebagai “mempersekutukan Allah
dengan Tuhan yang lain”. Dengan kata lain, menganggap bahwa seseorang atau
benda lain memiliki sifat-sifat Allah, sama artinya dengan mempersekutukan
Allah.
Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa
dosa syirik tak akan diampuni:
Allah
tak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang
dikehendakiNya. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar. (Surat An-Nisa: 48)
PERTANYAN 17
Apa arti “memuja berhala”?
Menurut adat, kata
“memuja berhala” berarti menyembah benda atau wujud tertentu. Namun sebenarnya, maknanya lebih luas dan
tidak terbatas pada pengertian tersebut.
Di setiap masa, selalu ada manusia yang
mempersekutukan Allah, mengambil tuhan lain dan menyembah pujaannya atau
patung-patung. Memberhalakan sesuatu tidak selalu berarti bahwa pemujanya
mengatakan “ini tuhan yang saya sembah”. Tidak juga berarti bahwa ia mesti
bersujud dihadapannya.
Pada dasarnya, menyembah berhala dapat
berarti rasa suka seseorang terhadap sesuatu melebihi rasa sukanya kepada
Allah. Misalnya, lebih menyukai ridha seseorang dibanding ridha Allah, atau
lebih takut kepada seseorang dibanding rasa takut kepada Allah, atau lebih
mencintai seseorang dibanding cintanya kepada Allah.
Di dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa
sesuatu yang disekutukan dengan Allah tidak akan bisa menolong orang yang
mempersekutukannya.
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain
Allah adalah berhala. Dan kamu membuat dusta. Sungguh yang kamu sembah itu tak
mampu memberikan rezki kepadamu. Maka mintalah rezki itu dari sisi Allah dan sembahlah
Dia dan bersyukurlah kepadaNya. KepadaNya lah engkau akan dikembalikan. (Surat
Al-Ankabut: 17)
PERTANYAAN 18
Bagaimana menjauhkan diri
dari penyembahan berhala?
Pertama-tama, seseorang harus menegaskan
dalam hatinya bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan. Dia lah pemilik segala
kekuasaan, tak ada sesuatu pun selain Allah yang berkuasa untuk memberi
pertolongan ataupun mendatangkan bahaya. Seseorang yang meyakini kebenaran ini,
hanya mengabdi kepada Allah dan tidak pernah mempersekutukanNya.
Allah mengingatkan manusia untuk berpaling
hanya kepadaNya agar selamat dari syirik.
Hanya Dia lah yang kamu seru, dan jika Dia
menghendaki, Dia menghilangkan kesusahan kamu; kemudian engkau tinggalkan apa
yang engkau persekutukan denganNya. (Surat al-An’am: 41)
Perubahan radikal yang dialami seseorang
yang terbebas dari mempersekutukan Allah dan kembali hanya kepada Allah,
mula-mula terjadi di dalam hatinya. Pandangan dan pikiran orang ini selanjutnya
berubah seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya mengejar kehidupan di bawah
pengaruh faham tertentu dan bersikap tak peduli (jahil), kini menjalani
hidupnya semata untuk mengejar ridha Allah.
PERTANYAA 19
Apa yang dimaksud
dengan mencari ridha Allah pada tingkatan yang tertinggi?
Apa yang akan Anda lakukan jika tempat
tinggal Anda mengalami bencana banjir? Apakah Anda akan naik ke lantai
tertinggi dan menunggu tim penyelamat, ataukah naik dari lantai ke lantai
sejalan dengan naiknya air? Saat Anda naik ke atap, apakah Anda akan
menggunakan tangga ataukah elevator? Jelas bahwa tindakan yang paling bijaksana
pada kondisi seperti itu adalah memilih alternatif yang akan menyelamatkan
Anda, yakni alternatif yang memberikan hasil tercepat. Alternatif lainnya tak
perlu dilihat lagi. Dalam situasi ini, yang terbaik adalah naik ke lantai
teratas dengan menggunakan elevator. Demikian lah cara “memilih jalan terbaik”.
Kaum yang beriman menggunakan semua sarana
material dan spiritual pada setiap jam, bahkan setiap detik kehidupannya sesuai
dengan kehendak Allah. Jika harus memilih di antara beberapa alternatif, dia
memilihnya dengan arif dan mendengarkan hati nuraninya. Dan pilihan yang
diambilnya ditujukan untuk mengharap ridha Allah. Dengan cara ini, ia bertindak
sesuai dengan ridha Allah pada tingkatan yang tertinggi.
PERTANYAAN 20
Apa arti beriman sepenuh
hati?
Setiap orang pasti tahu bahwa tangannya
akan terbakar jika terkena api. Ia tak perlu berpikir lagi apakah akan
benar-benar terbakar atau tidak. Artinya, ia memiliki keyakinan penuh bahwa api
tersebut akan membakarnya. Keyakinan seperti ini disebutkan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut:
Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia,
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya. (Surat
Al-Jatsiyyah: 20)
“Memiliki keimanan sepenuh hati” artinya
mempercayai keberadaan Allah dan keesaannya, hari kebangkitan, surga dan neraka
dengan sepenuh-penuhnya keyakinan, tanpa ragu sedikitpun akan kebenarannya.
Layaknya mempercayai keberadaan orang-orang disekitar kita yang kita lihat dan
kita ajak bicara, seperti halnya pengetahuan intuitif terhadap contoh api di
atas. Keimanan penuh yang tumbuh di hati orang tersebut akan mendorongnya untuk
selalu beramal dengan cara yang diridhai Allah di setiap saat.
PERTANYAAN 21
Bagaımana cara
mengetahui tindakan kita yang mana yang diridhai Allah?
Pada orang yang takut kepadaNya, Allah
selalu memberi tahu tindakan mana yang paling tepat melalui hati nurani. Dalam
sebuah ayat, Allah berfirman:
Hai orang-orang beriman! Jika engkau takut
(bertaqwa) kepada Allah, niscaya Dia memberimu furqon (yang dengannya engkau
membedakan yang benar dari yang salah) dan menghapuskan segala kesalahanmu dan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surat
Al-Anfal: 29)
Mesti diingat bahwa suara pertama yang
didengar individu di dalam hatinya adalah suara nurani yang membantunya
membedakan yang benar dari yang salah. Suara ini lah yang memberitahukan
perbuatan yang diridhai Allah. Orang yang takut kepada Allah sampai kepada
kebenaran dengan jalan mendengarkan kepada hati nuraninya.
PERTANYAAN 22
Adakah suara
lain di dalam hati selain suara hati nurani?
Semua alternatif lain yang muncul setelah
kata hati adalah “suara hawa nafsu” yang berusaha menghapus kata hati. Hawa
nafsu berusaha sekuat tenaga untuk mencegah seseorang untuk melakukan
perberbuatan yang benar dan mendorong kepada perbuatan buruk.
Suara ini mungkin tidak nampak jelas. Bisa
muncul berupa serangkaian alasan yang nampaknya masuk akal. Pengaruhnya bisa
menyebabkan seseorang berpikiran “semua ini (hati nurani) tak berarti sama
sekali”. Kenyataan ini disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan jiwa yang Allah sempurnakan dan
ilhamkan padanya pengetahuan akan dosa dan ketaqwaan. Sungguh beruntung
orang-orang yang menyucikan jiwa.” (Surat Asy-Syams: 7-9)
Ayat di atas menyatakan bahwa manusia
merupakan sasaran dosa (hawa nafsu), namun diberi kesadaran bahwa ia mempunyai
kewajiban untuk menghindarinya. Manusia diuji untuk memilih antara kebaikan dan
keburukan.
PERTANYAAN 23
Bagaimana cara mata melihat?
Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu tanpa
mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur. (Surat An-Nahl: 78)
Proses penglihatan
terjadi secara bertahap. Saat
mata melihat benda, kumpulan cahaya (foton) bergerak dari benda menuju mata.
Cahaya ini menembus lensa mata yang selanjutnya membiaskannya dan menjatuhkannya
secara terbalik di retina mata – bagian belakang mata. Sinar yang jatuh di
retina mata ini di ubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh
syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak yang
disebut pusat penglihatan. Di dalam pusat penglihatan inilah, sinyal listrik
ini diterima sebagai sebuah bayangan setelah mengalami sederetan proses. Dalam
bintik kecil inilah sebenarnya penglihatan terjadi, di bagian belakang otak
yang sama sekali gelap dan terlindung dari cahaya.
Saat mengatakan “kita melihat”, sebenarnya
kita hanya melihat efek-efek impuls yang sampai ke mata kita dan diteruskan ke
otak kita setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Jadi, saat kita
mengatakan “kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat sinyal-sinyal listrik
di dalam otak kita.
Buku yang sedang Anda baca serta
pemandangan yang terbentang di kaki langit termuat dalam ruang kecil di dalam
otak ini. Hal yang serupa terjadi dengan persepsi lain yang Anda tangkap
melalui keempat indra lainnya.
PERTANYAAN 24
Apa maksud pernyataan bahwa materi merupakan
“kumpulan persepsi-persepsi”?
Seluruh informasi yang kita miliki tentang
dunia luar, sampai kepada kita melalui kelima indra kita. Dunia yang kita tahu
terdiri dari apa yang kita lihat dengan mata, yang kita dengar lewat telinga,
yang kita cium dengan hidung, yang kita rasa dengan lidah, dan yang kita rasa
lewat sentuhan kulit. Riset modern mengungkapkan bahwa persepsi kita hanyalah
respons-respons otak terhadap sinyal-sinyal listrik. Berdasarkan hal ini, orang
yang kita lihat, warna-warna, rasa keras melalui sentuhan, dan segala sesuatu yang
kita miliki dan yang kita terima sebagai dunia luar, hanyalah sinyal-sinyal
listrik yang sampai ke otak kita.
Contohnya sebuah apel: Sinyal-sinyal
listrik yang berkenaan dengan rasa, bau, rupa dan kekerasan buah apel sampai ke
otak kita melalui syaraf-syaraf dan membentuk gambarannya di dalam otak. Jika
syaraf menuju otak terputus, persepsi yang berkenaan dengan buah apel ini akan
lenyap. Yang kita indra sebagai apel, sebenarnya merupakan kumpulan
persepsi-persepsi yang sampai ke otak kita. Kita tak pernah bisa memastikan
bahwa “kumpulan persepsi-persepsi” ini benar-benar ada di luar kita. Kita tak
memiliki kesempatan untuk bisa keluar dari otak kita dan menyentuh sesuatu yang
ada di luar: yang kita miliki hanyalah persepsi-persepsi kita.
PERTANYAAN
25
Apakah keberadaan dunia luar suatu keharusan?
Kita tak pernah tahu apakah dunia luar
benar-benar ada, karena setiap benda hanyalah kumpulan persepsi-persepsi. Dan
persepsi-persepsi ini hanya ada dalam pikiran kita. Maka, satu-satunya dunia
yang benar-benar ada adalah dunia persepsi-persepsi. Satu-satunya dunia yang
kita tahu hanyalah dunia yang ada dalam pikiran kita; dunia yang dirancang,
direkam, dan hidup di sana. Pendek kata, dunia yang diciptakan dalam pikiran
kita. Itulah satu-satunya dunia yang kita yakini keberadaannya.
PERTANYAAN 26
Apakah kita tertipu oleh persepsi-persepsi tanpa ada
korelasi material yang nyata?
Benar, kita tertipu dengan keyakinan pada
persepsi-persepsi tanpa ada korelasi material yang nyata. Demikian ini karena
kita tak pernah bisa membuktikan bahwa persepsi-persepsi yang kita tangkap
melalui otak memiliki korelasi material. Persepsi-persepsi itu bisa saja timbul
dari suatu sumber “buatan”. Kita sering mengalaminya dalam mimpi kita. Kita
seolah mengalami suatu kejadian, melihat orang-orang, benda dan susunan-susunan
yang seolah nyata. Padahal kenyataanya tidak ada, hanya persepsi-persepsi saja.
Tak ada perbedan mendasar antara mimpi dan “dunia nyata”; keduanya sama-sama
dialami dalam otak.
PERTANYAAN 27
Jika semua keberadaan material yang kita tahu
hanyalah persepsi-persepsi, lalu apa itu otak?
Karena otak kita pun merupakan bagian dari
dunia fisik seperti halnya tangan, kaki, atau benda lainnya, maka otak pun
merupakan persepsi seperti yang lainnya. Mimpi merupakan contoh yang baik untuk
menjelaskan masalah ini. Anggaplah kita sedang melihat sebuah mimpi. Dalam mimpi
itu, kita memiliki tubuh khayalan, tangan khayalan, mata khayalan, dan otak
khayalan. Jika dalam mimpi ini, kita ditanya, “Di mana Anda melihat?” Kita akan
menjawab “saya melihat dalam otak saya”. Padahal sebenarnya, tidak ada otak di
sana, melainkan hanya kepala dan otak khayalan. Wujud yang melihat bukanlah
otak khayalan dalam mimpi, melainkan “wujud” yang derajatnya jauh lebih tinggi
dari itu.
PERTANYAAN 28
Lalu siapa atau apa yang mengindra?
Sejauh ini, kita meyakini bahwa yang
melakukan pengindraan adalah otak. Namun jika kemudian kita analisis otak ini,
yang kita dapatkan hanyalah molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada
pada organisme-organisme hidup lain. Artinya bahwa di dalam gumpalan daging
yang kita sebut sebagai “otak” ini, tak ada sesuatu apapun yang bisa mengamati,
yang memiliki kesadaran, atau yang menciptakan wujud yang kita sebut sebagai
“diri pribadi”.
Jelas bahwa wujud yang melihat, mendengar
dan merasakan ini bersifat supra-material. Wujud ini “hidup” dan tidak berupa
materi ataupun gambaran dari materi. Wujud ini bersekutu dengan
persepsi-persepsi di depannya dengan menggunakan gambaran tubuh kita.
Wujud ini adalah “ruh”. Allah menyatakannya
dalam Al-Qur’an:
Mereka bertanya kepadamu tentang ruh.
Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Allah. Dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan tentangnya melainkan sedikit. (Surat Al-Isra’: 85)
PERTANYAAn 29
Karena dunia material yang kita indra hanyalah
persepsi-persepsi yang dilihat oleh ruh, lalu apa yang menjadi sumber
persepsi-persepsi ini?
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, materi
tidak memiliki wujud yang dapat mengatur dirinya sendiri. Materi hanyalah
sebuah persepsi, sesuatu yang sifatnya “artifisial” (buatan). Karenanya,
persepsi-persepsi ini mestinya disebabkan oleh kekuatan lain. Dengan kata lain,
persepsi adalah sesuatu yang diciptakan. Jelas bahwa ada Sang Pencipta. Yang
menciptakan seluruh alam material, yakni kumpulan persepsi-persepsi, yang
diciptakanNya tanpa henti. Pencipta ini adalah Allah Yang Maha Kuasa. Fakta
bahwa langit dan bumi bukanlah sesuatu yang stabil, dan keberadaanya hanyalah
karena diciptakan Allah. Semuanyanya akan lenyap setelah Dia menghentikan
penciptaannya. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut ini:
Allah lah yang menahan langit dan bumi agar
tidak lenyap. Sungguh jika keduanya lenyap, tak ada seorang pun yang dapat
menahan keduanya kecuali Allah. Sungguh Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
(Surat Fatir: 41)
PERTANYAAn 30
Apa yang
dimaksud dengan Allah meliputi segala sesuatu dan Dia lebih dekat kepada kita
dibanding urat leher kita sendiri?
Materi tersusun hanya dari
persepsi-persepsi. Satu-satunya wujud nyata dan mutlak hanyalah Allah. Artinya,
hanya Allah lah yang ada; segala sesuatu selain dia hanyalah wujud semu.
Karenanya Allah “ada dimana-mana” dan meliputi segala sesuatu. Segala yang ada
merupakan gambaran yang Allah proyeksikan kepada kita.
Karena setiap wujud material merupakan
persepsi, maka ia tak dapat melihat Allah. Sebaliknya, Allah melihat seluruh
materi yang diciptakannya dalam berbagai bentuknya. Artinya, kita tak dapat
menangkap wujud Allah dengan mata kita, namun Allah meliputi kita dari dalam,
dari luar, dalam pandangan dan pikiran. Kita tak mampu mengucapkan perkataan
apapun selain dengan pengetahuan dan ijinNya, bahkan tanpa Dia bernafaspun
tidak akan bisa.
Meskipun kita melihat persepsi-persepsi ini
di sepanjang hidup kita, wujud terdekat kepada kita bukanlah salah satu di
antaranya, melainkan Allah sendiri. Rahasia ayat berikut tersembunyi dalam
kenyataan ini:
“Dia lah yang menciptakan manusia, dan Kami
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya; karena Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya (sendiri). (Surat Qaf: 16)
Jika manusia berpikiran bahwa tubuhnya
hanya terdiri dari “materi”, ia tidak akan dapat memahami fakta penting ini. Jika
ia menganggap otaknya sebagai “dirinya”, maka letak dunia luar adalah 20-30 cm
dari dirinya. Namun jika dia mengerti bahwa materi hanya lah imajinasi, maka
pengertian luar, dalam, jauh ataupun dekat tak memiliki arti sama sekali. Allah
meliputi dirinya dan Dia “sangat dekat” kepada dirinya.
PERTANYAAN 31
Apakah cinta saja, kepada Allah, tidak cukup? Apakah
takut kepada Allah itu suatu keharusan?
Menurut Al-Qur’an, cinta sejati menuntut
kepatuhan kepada Allah dan menghindari apa yang tidak diridhaiNya. Jika kita
perhatikan kehidupan dan perbuatan orang-orang yang merasa yakin bahwa cinta
saja sudah cukup, dapat kita lihat bahwa mereka tidak teguh dengan pendiriannya
itu. Sebaliknya, seseorang yang mencintai Allah dengan setulus hati, sangat
patuh kepada perintahNya. Ia menghindari hal-hal yang dilarangNya serta
memelihara dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang diridhai Allah. Ia
menunjukkan cintanya dengan mencari ridha Tuhannya di setiap saat dengan rasa
segan, keyakinan, kepatuhan dan kesetiaan kepadaNya.
Karena sikap prihatinnya itu, ia sangat
takut akan kehilangan ridhaNya atau menimbulkan murkaNya. Mengungkapkan cinta
hanya di bibir saja, namun hidup dengan melewati batas-batas yang dilarang
Allah, tentunya merupakan sikap yang munafik. Allah memerintahkan manusia untuk
takut kepadaNya:
Bertaubatlah kepadaNya dan takutlah
kepadaNya, serta dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang
yang memepersekutukan Allah. (Surat Ar-Rum: 31)
PERTANYAAn 32
Seberapa besar mestinya rasa takut kita kepada Allah?
Setiap orang yang menyadari keberadaan
Allah dan mengenal sifat-sifatNya yang agung merasa sangat takut kepada Allah.
Selain Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah juga adalah Al-Qohhar (Maha
Menguasai), Al-Hasib (Maha Membuat Perhitungan), Al-Muazzib (Maha Menghukum),
Al-Muntaqim (Maha Penyiksa), Al-Saiq (Yang Memasukkan ke neraka). Karenanya, umat
Islam takut kepada Allah yang gaib. Mereka mengetahui tak ada seorang pun yang
bisa selamat dari hukumanNya, karena mereka tahu harus mempertanggungjawabkan
segala perbuatannya. Mereka selalu berusaha menghindari perilaku yang tidak
disukai Allah.
Harus difahami bahwa takut di sini memiliki
konotasi yang berbeda dengan pengertian takut pada masyarakat tak beragama.
Takut di sini memberikan rasa aman bagi yang mengimaninya, dan memotivasi untuk
beramal mencari ridha Allah.
Berikut ini adalah perintah Allah kepada
orang-orang yang beriman:
Maka takutlah kepada Allah menurut
kesanggupanmu, dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah apa yang baik
bagi dirimu. Barangsiapa terpelihara dari kekikiran, mereka itulah orang-orang
yang beruntung. (Surat At-Taghabun: 16)
PERTANYAAN 33
Apakah Al-Qur’an
dapat difahami setiap orang?
Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi
petunjuk bagi semua orang. Itulah sebabnya Al-Qur’an sangat jelas dan mudah
difahami. Allah pun menekankan sifat ini: “Sesungguhnya telah datang
kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang terang.” (Surat Al-Maidah: 15)
Ayat lain yang lebih mempertegas hal itu adalah:
Demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an
dengan ayat-ayat yang nyata. Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia
kehendaki. (Surat Al-Hajj: 16)
Namun, untuk dapat melihat kebijaksanaan
dalam Al-Qur’an dan untuk memahami kemuliaannya, seseorang harus membacanya
dengan hati yang tulus dan selalu berpikir sesuai dengan hati nuraninya.
PERTANYAAN 34
Bolehkah kita
membaca Al-Qur’an setiap saat?
Al-Qur’an merupakan satu-satunya petunjuk
bagi orang yang beriman di sepanjang hidupnya. Dalam sebuah ayatnya, Allah
memerintahkan istri-istri Rasul untuk membaca dan mengingat ayat-ayat Allah
serta hikmah (sunnah Nabi) di rumah-rumah mereka (Surat Al-Ahzab: 34). Praktek seperti ini diperintahkan pula
kepada umat yang beriman saat itu. Ketika ayat ini sampai kepada mereka dengan
jelas, mereka membaca naskah Al-Qur’an di rumah-rumah mereka serta
menghapalnya. Bagi kita, akan lebih utama jika membaca Al-Qur’an sambil
mengamalkannya dengan rajin.
PERTANYAAN 35
Apakah Al-Qur’an ditujukan bagi manusia di segala
jaman?
Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi seluruh dunia di sepanjang masa:
Inilah penerang bagi seluruh manusia, dan
petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (Surat Ali Imran: 138)
Allah memberikan contoh-contoh dalam
Al-Qur’an berdasarkan peristiwa-peristiwa di masa lampau agar manusia yang
hidup di sepanjang jaman menjadi waspada dan tidak mengulang kesalahan yang
sama. Peristiwa-peristiwa serupa yang disebutkan dalam Al-Qur’an bisa saja
dialami seseorang, bahkan di jaman sekarang ini.
PERTANYAAn 36
Benarkah Allah
menjaga ayat-ayat Al-Qur’an dari perubahan hingga saat ini?
Al-Qur’an dilindungi
Allah. Ia diturunkan 1400
tahun yang lalu dan tidak mengalami perubahan sedikitpun hingga saat ini. Kebenaran ini dinyatakan
Allah dalam ayat berikut:
Kami lah yang menurunkan peringatan
(Al-Qur’an) dan sungguh Kami yang memeliharanya. (Surat Al-Hijr: 9)
Telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an)
sebagai kalimat yang benar dan adil. Tak ada yang dapat merubah
kalimat-kalimatnya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surat al-An‘am:
115)
Janji Allah ini sudah cukup bagi
orang-orang yang beriman. Malah, Allah telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an
merupakan kitab kebenaran yang mengandung keajaiban ilmiah dan keajaiban
numerik.
PERTANYAAN 37
Apa
keajaiban-keajaiban ilmiah dalam Al-Qur’an?
Meskipun Al-Qur’an diwahyukan 1400 tahun
yang lalu, di dalamnya mengandung fakta-fakta ilmiah yang sama sekali tak
diketahui pada saat itu. Fakta-fakta tersebut baru ditemukan pada jaman kita
melalui peralatan ilmiah dan teknologi mutakhir. Ciri ini jelas menunjukkan
keaslian Al-Qur’an sebagai wahyu yang berasal dari Allah. Berikut adalah
beberapa contoh dari keajaiban tersebut:
Temuan terbesar abad 2000
menyatakan bahwa alam semesta terus mengembang. Namun, fakta ini telah Allah sampaikan kepada kita
1400 tahun yang lalu dalam ayat ke-47 Surat Az-Zariyat:
Kamilah yang membangun alam semesta dengan
kekuasan Kami, dan sungguh, Kami terus mengembangkannya. (Surat adh-Dhariyat:
47)
Pergerakan benda-benda langit dalam
orbitnya yang tetap, dinyatakan Al-Qur’an berabad-abad yang lampau:
Dan Dia lah yang menciptakan malam dan
siang, matahari dan bulan, masing-masing bergerak dalam garis edarnya. (Surat
al-Anbiya: 33)
Jika kita teliti makna kata Arabnya dari
ayat yang menyebutkan kata ‘matahari’ dan ‘bulan’, kita akan mendapatkan sifat-sifat
yang menarik. Dalam ayat-ayat tersebut, kata siraj (pelita) dan wahhaj (menyala
terang) digunakan untuk matahari. Sementara untuk bulan digunakan kata munir
(berkilau, menerangi). Kita tahu bahwa matahari menghasilkan panas dan sinar
yang dahsyat sebagai akibat dari reaksi-reaksi nuklir di dalamnya, sementara
bulan hanya memantulkan cahaya yang datang dari matahari. Pemisahan ini
dinyatakan sebagai berikut:
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
membuat tujuh langit dengan penuh serasi satu dengan lainnya, dan membuat bulan
sebagai cahaya, dan membuat matahari sebagai pelita? (Surat Nuh: 15-16)
Sifat angin sebagai sarana “penyerbukan”
disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr Ayat ke-22:
Dan kami tiupkan angin untuk mengawinkan
(tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, dan kami beri minum kamu
dengan air itu. (Surat al-Hijr: 22)
Kata Arab “penyerbuk” merujuk pada efek
terhadap tumbuhan maupun awan. Sains moderen dalam bidang ini menunjukkan bahwa
angin memang memiliki kedua fungsi ini.
Keajaiban Al-Qur’an lainnya ditegaskan dalam
ayat berikut ini:
Dia menciptakan langit dan bumi untuk
tujuan Kebenaran. Dia menutup malam atas siang, dan menutup siang atas malam. .
. (Surat az-Zumar: 5)
Dalam ayat ini, saling menutupnya
(membungkus) antara siang dan malam diuraikan dengan kata “takwir”. Dalam
bahasa kita, kata ini berarti membuat sesuatu bertumpang tindih, terlipat
seperti kain yang digulungkan. Dalam kamus bahasa Arab, kata ini menerangkan
suatu tindakan membungkus sesuatu dengan melilitinya, seperti halnya membungkus
kepala dengan turban. Karenanya, secara implisit ayat ini merupakan informasi
akurat mengenai bentuk bumi. Sebuah ungkapan yang tepat bagi bentuk bumi yang
bulat. Artinya, bulatnya bentuk bumi telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an pada
abad ke-7.
PERTANYAAN 38
Adakah sistem pengkodean numerik dalam Al-Qur’an?
Al-Qur’an juga mengandung
keajaiban numerik. Penyisipan
angka “19” secara terkode dalam ayat-ayat tertentu, dan jumlah pengulangan
kata-kata tertentu merupakan contohnya.
Pengulangan kata: Di dalam Al-Qur’an,
beberapa kata diulang-ulang dengan jumlah pengulangan yang sama. Misalnya:
1. Frasa “tujuh langit” diulang sebanyak 7
kali.
2. Kata “dunia” dan “akhirat” sama-sama
diulang sebanyak 115 kali.
3. Kata “hari” diulang sebanyak 365 kali,
sementara kata “bulan” diulang sebanyak 12 kali.
4. Kata “iman” (tanpa melihat jenis kelamin)
diulang sebanyak 25 kali di sepanjang Al-Qur’an. Demikian pula kata “khianat”
(suami terhadap istri atau sebaliknya) dan kata “kufur” (menutupi kebenaran).
5. Jika kita hitung kata “katakanlah”,
jumlahnya ada 332. Akan didapat Jumlah yang sama jika kita menghitung jumlah
pengulangan frase “mereka berkata/mengatakan”.
6. Kata “setan” digunakan sebanyak 88 kali.
Kata “malaikat” pun diulang sebanyak 88 kali.
Keajaiban angka 19: Angka 19 disebut dalam
Al-Qur’an dalam pernyataan tentang neraka: “Ia dijaga oleh sembilan belas
penjaga.” (Surat Al-Mudatsir: 30). Angka ini juga dikodekan dalam ayat Qur’an lainnya. Misalnya:
“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang.”
Kalimat yang kita temui pada setiap
permulan surat ini memiliki 19 huruf.
Al-Qur’an terdiri dari 114 surat; angka 114
merupakan kelipatan dari 19, sama dengan 6 dikali 19.
Ada banyak angka kelipatan 19 lainnya:
Jumlah kata “Allah” dalam Al-Qur’an adalah
2698 (19 x 142);
Jumlah kata “Maha Penyayang” dalam
Al-Qur’an adalah 114 (19 x 6);
Jika kita tambahkan semua angka dalam
Al-Qur’an (tanpa menghitung pengulangannya), kita akan mendapatkan angka
162.146, yakni 19 x 8534;
Surat pertama yang diwahyukan terdiri dari
19 ayat.
Banyak contoh lain yang tak terhitung
jumlahnya.
PERTANYAAN 39
Bagaımana kita mengetahui keberadaan akhirat?
Sekarang ini, Allah membuat manusia hidup
dalam dunia persepsi. Sebuah ciptaan yang sempurna dan indah, dengan tampilan
tiga dimensi serta penuh warna dan cahaya. Allah yang menciptakan dunia ini
tentu saja mampu menciptakan alam yang jauh lebih indah lagi.
Seperti halnya gambaran alam yang Allah
bentuk dalam otak manusia, Dia pun berkuasa untuk mengalihkan manusia ke
dimensi lain setelah kematian manusia. Dia akan menunjukkan gambaran-gambaran
dalam lingkungan yang berbeda. Alam dengan dimensi lain itu adalah alam
akhirat.
PERTANYAAn 40
Apakah reinkarnasi itu ada?
Reinkarnasi adalah takhyul yang tidak
berdasar. Pendapat ini berasal dari orang-orang tak beragama yang berpikiran
bahwa manusia akan “menghilang setelah kematian”. Atau timbul pada orang-orang
yang merasa takut untuk memasuki alam akhirat setelah kematian. Bagi kedua
kelompok manusia ini, kembali ke dunia lagi setelah kematian merupakan suatu
harapan yang menarik.
Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an menyebutkan
bahwa hanya ada sekali kehidupan di dunia ini. Tempat dimana manusia diuji amal
perbuatannya. Disebutkan pula bahwa setelah kematian tidak ada arah kembali ke
dunia ini. Manusia hanya mati sekali saja. Ini ditegaskan dalam ayat berikut
ini:
Mereka tidak akan merasakan kematian di
dalamnya kecuali sekali saja. Tuhanmu memelihara mereka dari azab api neraka.
(Surat Ad-Dukhan: 56)
PERTANYAAn 41
Apakah mati itu berarti menghilang?
Bagi manusia, mati tidak
berarti menghilang. Kematian
merupakan suatu peralihan ke kampung akhirat, tempat tinggal yang sebenarnya.
Kematian memutuskan hubungan seseorang dengan tatanan dunia, termasuk tubuhnya
yang ada dalam tatanan ini. Saat hubungan antara tubuh dan ruh terputus, yakni
setelah kematian, ruh mulai berhubungan dengan gambaran akhirat. Tabir di depan
matanya tersingkap, kemudian sadarlah ia bahwa mati bukan berarti menghilang
seperti anggapannya. Ia memulai kehidupan akhirat seperti memulai hari-harinya
saat terbangun dari tidurnya. Ia dibangkitkan dari kematian. Hal ini dinyatakan
dalam Al-Qur’an: “Dia lah yang memberi kehidupan dan menyebabkan kematian.
Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan, “Jadilah” maka jadilah.
(Surat Ghafir: 68) Peralihan manusia ke alam akhirat terjadi dengan sebuah
perintah Allah seperti itu.
PERTANYAAN 42
Apa yang dialami
orang saat kematiannya?
Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan
itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang beriman dan
mengerjakan amal saleh, yakni kehidupan dan kematian mereka akan sama? Amat
buruklah persangkaan mereka itu! (Surat al-Jatsiyah: 21)
Kematian spiritual yang dialami manusia
telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Dan karenanya jelas bahwa kematian spiritual
berbeda dengan kematian tubuh secara klinis. Dinyatakan di dalam Al-Qur’an
bahwa peristiwa-peristiwa tertentu terjadi saat kematian. Peristiwa-peristiwa
itu hanya bisa dilihat oleh yang mengalaminya, namun tidak dapat dilihat orang
lain.
Sebagai contoh, seorang yang kafir yang tak
percaya akan keberadaan Allah nampak seolah mati dengan tenang, layaknya sedang
tidur. Padahal kenyataannya, ruhnya yang beralih ke dimensi lain mengalami rasa
sakit yang amat berat. Sebaliknya, ruh orang beriman yang nampak menderita saat
kematiannya, dicabut nyawanya oleh malaikat maut dengan lembut perlahan-lahan.
Peristiwa yang dialami orang beriman dan
orang yang kafir di saat kematiannya berbeda sama sekali. Dalam Al-Qur’an
disebutkan bahwa orang yang kafir akan mengalami hal berikut saat kematiannya:
Jiwanya akan dipukul di bagian punggung dan
mukanya.
Mereka mengalami siksa kematian yang pedih.
Malaikat-malaikat mengabari mereka dengan
siksaan yang kekal.
Ruhnya akan dicabut dengan kasar dari
tubuhnya.
Sementara bagi orang-orang yang beriman:
Ruhnya dicabut dengan lembut dan
perlahan-lahan dari tubuhnya.
Mereka disambut para malikat dengan ramah
disertai ucapan salam.
Saat malaikat mencabut ruhnya, mereka
dikabari berita surga.
PERTANYAAn 43
Apakah alam
semesta pun akan mengalami kematian?
Allah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa
seluruh mahluk akan mengalami kematian, termasuk alam semesta ini. Semua
binatang, tumbuhan, manusia akan mati. Planet-planet, juga bintang-bintang dan
matahari akan mati. Pada hari kiamat, semua wujud materi mati dan hancur.
Peristiwa kiamat merupakan peristiwa yang paling dahsyat yang pernah dialami
manusia. Peristiwa ini dirujuk dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Namun manusia masih hendak mengingkari apa
yang dihadapan mereka, dan bertanya, ‘Bilakah datangnya kiamat itu?’
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
Dan apabila bulan telah hilang cahayanya.
dan matahari dan bulan dikumpul
(bertabrakan).
Pada hari itu manusia akan bertanya:
‘Kemana tempat berlari?’
Sekali-kali tidak! Tak ada tempat
berlindung.
Hanya kepada Tuhanmulah hari itu tempat
kembali.
Pada hari itu diberitakan kepada manusia
apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. (Surat al-Qiyamah:
5-13)
PERTANYAAn 44
Apakah hari kiamat itu hanya dialami oleh orang-orang
yang masih hidup ataukah oleh semua orang yang pernah hidup sebelumnya?
Hari kiamat dimulai dengan tiupan
sangkakala. Bersamaan dengan gempa yang dahsyat dan ledakan yang memekakkan
telinga, seluruh manusia di muka bumi menyadari bahwa mereka sedang menghadapi
bencana yang menakutkan. Bumi dan langit terbelah dan alam semesta pun
berakhirlah. Tak ada kehidupan yang tersisa di muka bumi. Saat tiupan
sangkakala yang kedua dibunyikan, manusia dibangkitkan dan dicabut keluar dari
kuburnya. (Surat Az-Zumar: 39,68)
Seluruh manusia menyaksikan peristiwa yang
berkembang setelah kebangkitan.
Namun Allah menjamin bahwa orang-orang yang
beriman akan terjaga dengan aman dan tentram, dan terbebas dari rasa takut
terhadap hari kiamat:
Barang siapa membawa kebaikan, maka ia
memperoleh balasan yang lebih baik dan selamat dari kejutan dahsyat hari itu.
(Surat An-Naml: 89)
PERTANYAAn 45
Perhitungan macam apa yang dialami pada Hari
Perhitungan?
Pada Hari Perhitungan,
setiap orang akan diperiksa amalnya. Pada tahap pertama, segala hal yang diperbuat selama hidupnya akan
ditunjukkan tanpa ada yang terlewat:
“...bahkan jika ada sesuatu (perbutan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya
Allah akan mengeluarkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.” (Surah Luqman: 16).
Pada hari itu tak ada satu perbuatan pun
yang dirahasiakan.
Orang bisa saja lupa apa yang dikerjakannya
saat hidup di dunia. Namun Allah tidak pernah lupa terhadap segala perbuatnya,
bahkan Dia akan menunjukkan kehadapannya pada hari perhitungan. Pada hari itu,
setiap orang diberi catatan amalnya. Juga hasil timbangan yang adil atas
kebaikan dan kejahatannya, tanpa dirugikan sedikitpun. Selama perhitungan, pendengaran,
penglihatan dan kulitnya menjadi saksi atas perbuatannya selama hidup di dunia.
Setelah perhitungan yang menggelisahkan itu, orang-orang yang tidak beriman
digiring ke neraka. Sedangkan orang-orang beriman menjalani perhitungan yang
mudah, dan memasuki surga dengan wajah cerah dan gembira sebagai hari
kemenangan yang besar.
PERTANYAAn 46
Dapatkah seseorang menanggung dosa orang lain?
Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an
bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia.
Setiap orang akan melihat apa yang diperbuatnya, dan tak seorangpun bisa
menolong orang lain. Ini dinyatakan dalam ayat berikut:
Orang yang berdosa tidak
memikul dosa orang lain. Dan
jika seseorang yang berat dosanya meminta tolong untuk dipikulkan dosanya, tak
ada seorangpun akan memikulkan untuknya meskipun itu kaum kerabatnya... (Surat
Al-Fatir: 18)
PERTANYAAn 47
Apakah sesorang memiliki kesempatan untuk memperbaiki
amal yang telah lalu setelah ia melihat kebenaran akhirat?
Pada hari itu, tidak ada peluang untuk
memperbaiki amal. Meyakini setelah kematian adalah hal yang sia-sia. Al-Qur’an
pun menyebutkan bahwa pada hari perhitungan, orang-orang kafir akan memohon
agar diberi kesempatan untuk mengerjakan kewajibannya. Namun permintaan mereka
tak akan diterima. Mereka berharap dapat kembali ke dunia, tetapi permintannya
ditolak. Setelah menyadari tak ada peluang untuk menebus dosa, mereka sangat
menyesal. Keputusasaan dan penyesalan yang bercampur merupakan perasaan yang
menyiksa tiada bandingannya di dunia ini. Mereka sadar akan mendapat hukuman
yang kekal di akhirat, tanpa sedikitpun peluang untuk menghindar:
Dan jika kamu melihat ketika mereka
dihadapkan ke neraka, mereka berkata: ‘Kalau saja kami dikembalikan ke dunia,
kami tak akan mengingkari ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang
beriman.’ Tidak, telah nyata bagi mereka kejahatan yang dahulu selalu mereka
sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali kepada
perbuatan yang dilarang bagi mereka. Dan sesungguhnya mereka itu
pendusta-pendusta belaka. Dan mereka akan berkata, ‘Kehidupan itu hanya di dunia
saja dan kita sekali-kali tak akan dibangkitkan kembali.’ Dan seandainya kamu
melihat ketika mereka dihadapakan kepada Tuhan mereka. Allah berfirman,
‘Bukankah kebangkitan ini benar?’ Mereka berkata, ‘Sungguh benar, demi Tuhan
kami!’ Allah berfirman, Karena itu rasakanlah azab ini, karena kamu
mengingkarinya.’ (Surat Al-An’am: 27-30)
PERTANYAAn 48
Seperti apakah neraka itu?
Neraka adalah tempat segala macam
penderitaan, siksaan dan hukuman yang kekal bagi orang-orang yang tidak
beriman. Mengenai hal ini, Al-Qur’an menerangkan:
Sesungguhnya neraka itu tempat yang selalu
menanti – tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal
di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan ataupun
mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah – sebagai pembalasan yang
setimpal. (Surat An-Naba’: 21-26)
PERTANYAAn 49
Apa yang diceritakan Al-Qur’an tentang neraka?
Ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan adanya
kehidupan di neraka. Namun kehidupan yang dialami adalah segala macam kehinaan,
penderitaan dan siksaan lahir dan batin.
Dibandingkan dengan kehidupan di dunia,
manusia tak dapat membayangkan bagaimana beratnya siksaan di neraka.
Orang-orang yang tidak beriman mengalami siksaan berat dari berbagai segi, baik
lahir maupun batin. Lagi pula, siksanya tak pernah berhenti ataupun berkurang:
Sekali-kali tidak! Sungguh neraka itu adalah api yang
bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang
membelakang dan berpaling, serta mengumpulkan harta dan menyimpannya (dengan
kikir). (Surat Al-Ma‘arij: 15-18)
PERTANYAAn 50
Sepertı apakah surga itu?
Surga adalah tempat kembali bagi mereka
yang memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an, menta’ati perintah-perintah Allah dan
hidup demi mencari ridha Allah. Di dalamnya, mereka hidup kekal dan mendapatkan
apa yang mereka inginkan. Di dalam surga, manusia bisa menikmati dengan segera
segala keindahan yang disukainya, dan kapanpun bebas melakukan apa yang
diinginkannya. Di surga, terdapat segala sesuatu yang dikehendaki manusia,
bahkan lebih dari itu. Pahala berlimpah yang diterima orang-orang yang beriman
disebutkan dalam ayat-ayat berikut:
Hamba-hambaku, tiada kekhawatiran
terhadapmu pada hari ini; tidak pula kamu bersedih hati.
Yaitu orang-orang yang beriman kepada
ayat-ayat Kami dan mereka yang dahulunya berserah diri.
Masuklah kamu dan istri-istri kamu ke dalam
surga, dan bergembiralah.
Diedarkan kepada mereka piring-piring dan
piala dari emas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan
hati dan sedap dipandang mata. Dan kamu kekal di dalamnya.
Itulah surga yang akan diwariskan kepadamu
untuk amal-amal yang dahulu engkau kerjakan. (Surat Az-Zukhruf: 68-72)
PERTANYAAN 51
Sıapa saja yang masuk ke dalam surga?
...Allah menanamkan kedalam hati mereka
keimanan dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari padaNya. Dan
Allah masukkan mereka kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa
puas terhadapNya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
golongan Allah itulah yang beruntung. (Surat Al-Mujadilah: 22)
Sifat-sifat lain dari orang beriman, yang
karenanya Allah menjanjikan surga kepada mereka, dinyatakan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut:
mereka yang beriman dan melakukan amal saleh
(Surat Al-Baqarah: 25),
mereka yang selalu takut (taqwa) kepada
Allah (Surat Ali ‘Imran: 15),
mereka yang menahan amarahnya (Surat Ali
‘Imran: 134),
mereka yang tidak meneruskan perbuatan
kejinya (Surat Ali ‘Imran: 135),
mereka yang menta’ati Allah dan RasulNya
(Surat an-Nisa: 13),
mereka yang tetap mendirikan shalat dan
menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-rasul Allah dan membantunya (Surat
Al-Ma‘idah: 12),
mereka yang sungguh-sungguh dalam berbuat
kebenaran (Surat Al-Ma‘idah: 119),
mereka yang beramal baik (Surat Yunus: 26),
mereka yang merendahkan dirinya di hadapan
Tuhannya (Surat Hud: 23),
mereka yang bertaubat (Surat Maryam: 60),
mereka yang memelihara amanat dan janjinya
(Surat Al-Muminun: 8),
mereka yang tetap melaksanakan shalat
(Surat Al-Muminun: 9),
mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan
(Surah Fatir: 32),
mereka yang kembali kepada Allah dengan
taubat yang tulus (Surat Qaf: 32),
mereka yang takut kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah meskipun Dia tidak kelihatan, dan datang dengan hati yang taubat.
(Surah Qaf: 33).
pertanyaan 52
Apa itu kebajikan sejati?
Dalam setiap masyarakat, ada konsep umum
mengenai “kebajikan” yang ditetapkan oleh masing-masing anggotanya. Pada
masyarakat tertentu, orang yang memberikan uang kepada pengemis, bersikap ramah
kepada orang lain, atau membantu menyelesaikan masalah-masalah orang lain
dianggap sebagai “orang yang melakukan kebajikan”. Namun yang disukai Allah
tidak lah terbatas sampai di situ. Orang yang benar-benar “berbuat kebajikan”
adalah yang percaya kepada Allah dengan hati yang tulus dan mengatur hidupnya
dengan cara yang diridhai Allah. Allah menerangkan hal ini dalam Al-Qur’an:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur
dan Barat itu suatu kebajikan. Melainkan kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir, orang yang meminta-minta dan hamba sahaya; dan yang mendirikan shalat
dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah
orang-orang yang taqwa. (Surat Al-Baqarah: 177)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar